Skip to main content

Kisah Seram Nyata Perkemahan Tambang Emas Ojolali (Bagian 5)

Kisah Sebelumnya

Setelah kejadian kesurupan tersebut, acara yang dijadwalkan akan dilakukan pada malam hari pun dibatalkan. Acara pada malam hari diisi dengan kegiatan siswa masing-masing di tendanya. Aku dan reguku sendiri menghabiskan waktu dengan bermain gitar di dekat api unggun. 


Pikiranku saat itu masih berkutat pada kejadian yang terjadi di bawah sore tadi. Apakah yang di maksud tindakan kurang itu adalh tidakan kita yang dengan sengaja melihat teman teman perempuan kami mandi. Apakah kita, aku dan temanku nantinya akan di”apa-apakan” oleh makhluk halus tersebut. Aku tak bisa menjawab petanyaan yang memnuhi pikiranku tersebut, aku hanya bisa ikut bernyayi di pelataran api unggun dengan teman-temanku.


Malam pun hanya dilewatkan dengan obrolan ringgan dan tugas jaga pos. Sesekali terdengar teriakan siswi dari sekolah A Kasui yang sudah dapat kupastikan bahwa dia sedang kerasukan lagi. Tetapi, teriakan itu tidak berlangsung lam, hanya sering saja. Dan juga, tidak terlalu engundang minat murid lainnya untuk melihat.


Matahari belum bersinar dengan cerah, ketika guru Pembina pramuka datang lagi ke tenda kami untuk dan melakukan apel pagi. Apel pagi dilakukan seperti biasa, sama seperti malam sebelumnya. Teman kami yang sedang sakit pun berangsur pulih. Pagi ini, sebagian besar siswa laki-laki sekolah kami akan mandi bersama. Seoarang guru Pembina pramuka menunjukan bahwa di bagian bawah sebelah barat area perkemahan kami terdapat sungau besar yang mengalir. Sungau terseut adalah sungai Umpu. 


Setelah menyiapakn peralatan mandi, regu kami dan regu laki-laki lainnya pun berjalan beriringan ke sungai tersebut. Kami berjalan menyusuri tenda-tenda wanita dari sekolah lain. Saat melewati tenda siswi yang ksurupan semlam, terlihat dari luar dia sedang tergolek lemah tetapi dia telah sadarkan diri.


Tak sampai memekan waktu yang lama, kamipun sudah sampai di sungai Umpu tersebut. Sungai Umpu adalah sungai besar yang mengalir di daerah kami. Sungai ini memiliki panjang lebih dari lima belas meter. Tidak seperti sungai kecil di daerah kami yang bisa disebrangi langsung dengan menceburkan diri kesungai, untuk menyebrangi sungai ini  diperlukan jembatan gantung. Terlihat jauh didepan, jematan gantung berdiri, tidak dengan gagah karena terlihat jembatan itu sudah renta. Renta mungkin bukan bahasa yang tepat, tapi begitulah keadaan yang terlihat.


Aliran sungai Umpu sangat deras, beberapa siswa ada yang berani menceburkan diri ke dalam sungai. Tetpai mereka tidak berenang ke tengah. Berengang ke tengah bisa saja berarti mengantarkan nyawa. Karena kita tidak tahu dengan pasti berapa dalam sungai tersebut dan mahluk apa saja yang berenang di bawahnya.


Mandi sambil mencuci beberapa pakaian memkan waktu sekitar kuran lebih satu jam. Setelah itu, kamipun kembali lagi ke tenda. Memasak adalah kegiatan yang akan dilakukan. Lauk pagi ini yang akan kelompok kami buat adalah lauk instan dan praktis nan cepat saji. Apalagi kalu bukan mi instan. Tak cukup lama, nasi dan mi instan rebus pun sudah siap di santap. Kami pun mengambil piring kami masing-masing dan mulai menyantap sarapan. Kami sedang menikmati kenyalnya mi instan ketika tiba-tiba terdengar suara terikan wanita histeris dari luar. Suaranya lebih besar dan kencang dari suara terikan tadi malam.


Kami pun meletakan piring yang berada di tangan kami ke alas tenda ke alas tenda yang ditutupi oleh tikar itu. Kami tidak menyangka pagi-pagi cerah seperti ini, masih saja ada yang kesurupan. Bukan kah mitos mengatakan bahwa setan tidak akan keluar di pagi atau siang hari?


Ketika kami sudah mendekati sumber suara, kami pun melihat pemandangan yang sama dengan pemandangan semalam. Perempuan yang sama, tatapan yang sama, hanya baju yang ia kenakan saja yang berbeda. Murid perempuan itu pun berteriak seperti biasa. Mengelepar-gelepar layaknya ikan yang terjemur di bawah sinar matahari. Tiba-tiba tubuh murid yang erempuan yang kaki dan tangannya sudah dipegani itu melengkung ke atas dan kemudian ambruk kebawah.


Dia tertawa, cekikikan, laiknya seorang wanita yang baru saja mendengar lelucon yang sangat lucu. Tiba-tiba tertawanya terhenti. Dia menatap orang yang mengitarinya. Kemudian dia berkata


“Aku tidak mau, kalian semua berada di sini. Aku tidak mau kalian ganggu tempat ku. Kalian harus pergi dari sini hari ini, kalu tidak jangan salahkan kami apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengan anak ini”


Kami??? Aku pun mulai berpikir lagi. “Kami”, berarti lebih dari satu. Berarti kami sedang diawasi oleh “mereka”. Tiba tiba dari arak kiri kami, terdengar suara terikan lagi dan dibarengi dengan suara isakan. Suara yang sepertinya familiar di telinga ku karena aku sudah mendengarnya semalam. Benar saja, ketika aku dekati sumber suara itu, siswa yang sempat kesurupan semalam, pagi ini kesurupan lagi. Matanya merah, air mata meleleh di kedua bola matanya dan kepalanya menggeleng-geleng seperti orang yang menolak sesuatu.  Tangannya terus menunjuk ke arah timur, kearah jalan yang kami lalui tersebut, saat akan kembali dari pemandian kolam kemarin. Dan mulutnya mengucapkan dua kata yang selalu sama “Gedung biru!’


“Arghhhhhhhh” tiba-tiba terdengar jeritan wanita lagi. Aku meutar kepala mencari sumber suara. Kali ini aku lihat kerumunan orang di tenda siswi sekolah kami. Aku pun penasaran siapa yang kesurupan kali ini. Aku berlari kearah tenda siswi sekolah kami. Aku pun melihat seorang siswi yang sedang ditekan ibu jari kakinya oleh salah seorang guru. Aku kenal wanita itu, dia siswi kelas sepuluh B. Cantik, tapi pendiam dan kali ini dia sedang melakukan hal yang tampak tidak mungkin ia lakukan saat tidak kesurupan, yaitu berteriak. Aku pun mendekati teman seregunya yang juga teman sekalasku.


“Kenapa” tanyaku singkat


“Nggak tau, dari pagi dia bengong aja, eh tiba-tiba kesurupan” jawabnya smabil sesekali melihat kearah temannya tersebut.


Dari arah selatan aku lihat sebuah motor datang, salah satu guru sedang membonceng seorang pria yang Nampak berumur 50-tahuanan. Setelah turun dari motor, pria tersebut lansung mengahampiri siswi sekolah A Kasui yang masih kesurupan. Tak butuh waktu lama, sampai akhirnya siswi tersbut dapat tenang dan terjatuh lemas. Lelaki tersebut kini datang ke arah siswa yang mengucapakan ‘Gedung Biru”, dan sama halnya dengan siswi sekolah A Kasui. Kesurupan yang menimpa siswa tersebut pun berhasil diredakan. Sedang teman sekolah kami yang kesurupan sudah terlebih dahulu dapat ditangani oleh guru kami.


Sesaat, kami lihat pria tersebut berbincang dengan gur Pembina pramuka sebelum ahirrnya di antar pulang dnegan menggunakan motor. Pukul 10, peluit panjang pun kembali terdengar. Kali ini kami tidak berbaris rapi, hanya berkumpul membentuk lingkaran Seorang guru berdiri di tengah lingkaran tersebut. Bebrapa patah kata diberikan, sebelum akhirnya ia berkata


“Bailah, perkemahan Perjusami tahun ini terpaksa dibatalkan sampai hari ini. Jadi siang ini kita akan pulang ke rumah masing-masing”


Segera setelah guru tersebut selesai memberikan pengumuman, suara bisik-bisik tentang penyebab kenap perkemahan Jumat Sabtu Minggu ini dihentikan pun langsung terdengar, walapu aku yakin penyebabnya pasti karena kesurup tadi.


Kamipun lansung membongkar tenda kami dan mengepak barang-barang. Selesai mengepak barang, aku pun tiba tiba memiliki inisiatif untuk berjalah ke arah timur, arah yang selalu ditunjukan siswa tadi saat sedang kesurupan sambil mengatakan “gedung Biru”. Aku berjalan menjauhi tenda, tidak terlalu jauh, hanya berjarak sekitar dua puluh meter saat kakiku tiba tiba terantuk sesuatu. Aku pun langsung melihat kebawah.


Apa yang kulihat mungkin menjawa teka-teki tentang “Gedung Biru”, aku melihat sebuah makan yang berkeramik biru laut terbujur sendiri di area kosong itu. Makam yang namanya susah dikenali karena tulisannya terhapus dari nisannya. Makam yang tiba-tba saja membuatku ingin berbalik arah dan berlari ke tenda. Makan yang tiba tiba saja seperti memaksaku melihat arah bawah sana dan samar-samar aku melihat dua sosok manusia sedang berjalan diantar pepohonan. Aku pun langsung terbirit-birit lari setelahnya.


Makam ini tidak aku ceritakan kecuali kepada beberapa teman kelasku. Sebagian dari mereka setuju dengan pendapatku tentang makan tersebut adalah gedung biru dan sebagian lagi tidak. SSatu hal yang mengganjal ku sampai sekarang. Jika siswa tadi dipaksa untuk ikut ke Gedung Biri, apakah itu berarti pria tadi dipaksa buat ikut amsuk kemakam. Mati? Ah entahlah.


Begitulah akhir dari kisah Perjusami yang aku alami ssat kelas sepuluh SMA. 


Note: 
Saat sedang menunggu mobil truk datang, aku sempat melihat siswa yang kesurupan tadi, dan dia masih menangis dengan matanya yang merah. Dari pembicaraan yang kudengar, dia merasa eperti diseret-seret oleh tentara Belanda saat sedang kesurupan.


Temanku yang juga kesurupan, masih mengalami kesurupan saat sudah berada di sekolah. Dia kesurupan pada saat upacra bendera di hari senin. 


Salah seorang teman mengatakan bahwa guru kami melihat sosok mahluk hitan yang diyakini gendruwo sedang berada di tenda guru.


Seminggu setelah perkemahan itu, kami mendengar kabar bahwa siswi Kelas A Kasui masih sering kesurupan baik di sekolah dan di rumah. Ia pun jatuh sakit sampai harus dirawat di rumah sakit.


Cerita ini adalah cerita nyata dengan saksi hidup yang masih banyak. Jika anda tidak percaya, silahkan datang ke pertambangan emas Ojolali, Desa Donomulyo di daerah Way Kanan dan dirikan tenda barang satu hari satu malam saja. Jangan salahkan saya bila anda tidak bisa kembali karena di ajak ke gedung biru atau kolam pencucian emas.






Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Contoh Soal Narrative Text 10 Soal dan Kunci Jawabannya (2)

Selamat hari minggu sahabat Kebun cerita. Di kesempatan berbahagia ini, saya akan memberikan contoh soal narrative text yang dilengkapi dengan kunci jawaban. Contoh soal narrative text ini dapat sahabat EduofEnglish gunakan untuk melatih kemampuan reading ataupun sebagai bahan test untuk murid. Semoga contoh soal descriptive text ini bermanfaat. Silahkan meng-copy soal ini, tetapi jangan lupa sertakan sumbernya ya atau share blog ini. Terimakasih.

Text 1 Long, long ago, when the gods and goddesses used to mingle in the affairs of mortals, there was a small kingdom on the slope of Mount Wayang in West Java. The King, named Sang Prabu, was a wise man. He had an only daughter, called Princess Teja Nirmala, who was famous for her beauty but she was not married. One day Sang Prabu made up his mind to settle the matter by a show of strength. After that, Prince of Blambangan, named Raden Begawan had won the competition. Unfortunately, the wicked fairy, Princess Segara fell in love wi…

Soal Descriptive Text 10 Soal dan Kunci Jawabannya (4)

Selamat Hari Minggu sahabat Kebun Cerita. Di kesempatan berbahagia ini, saya akan memberikan contoh soal descriptive text yang dilengkapi dengan kunci jawaban. Contoh soal descriptive text ini dapat sahabat Kebun Cerita gunakan untuk melatih kemampuan reading ataupun sebagai bahan test untuk murid. Semoga contoh soal descriptive text ini bermanfaat.

The Hobbit is a film series consisting of three epic fantasyadventure films directed by Peter Jackson. They are based on the 1937 novel The Hobbit by J. R. R. Tolkien, with large portions of the trilogy inspired by the appendices to The Return of the King, which expand on the story told in The Hobbit, as well as new material and characters written especially for the films. The films are subtitled An Unexpected Journey (2012), The Desolation of Smaug (2013), and The Battle of the Five Armies (2014). The screenplay was written by Fran Walsh, Philippa Boyens, Jackson, and Guillermo del Toro, who was originally chosen to direct before his depar…