Kisah Seram Nyata : Perkemahan Tambang Emas Ojolali (Bagian 2)

Kisah Sebelumnya 
Kisah Seram Nyata Perkemahan Tambang Emas Ojolali (Bagian 1)
Cerita Rakyat
Pembagian Kelompok telah selesai dilakukan oleh masing-masing guru yang datang ke kelas. Aku sendiri mendapatkan 4 orang lelaki dalam kelompokku. Dua diantaranya berasal dari kelas sepuluh A dan dua diantaranya lagi dari kelas sepuluh B. Teman ku yang berasal dari kelas sepuluh A adalah Dwiki dan Edu dan temanku yang berasal dari kelas sepuluh B adalah Nata dan Wahyu.
Sepulang sekolah, kami pun berkumpul di kantin sebelah sekolah. Yah kantin satu-satunya yang dekat dengan sekolah yang mana menu andalan kantin ini adalah mi-goreng bakwan dengan saus tomat sebanyak-banyaknya. Di kantin itu kami berunding tentang pembagian peralatan yang akan dibawa. Perudingan pembagian alat perkemahan tidak berlangsung alot layaknya perundingan yang terjadi di gedung MPR di Senayan. Hanya membutuhkan waktu 15 menit dan mi goreng ekstra sambel saus tomat sebanyak satu mangkok maka semua anggota regu telah mengetahu apa yang harus dibawa masing-masing nanti pada hari Jumat. Dan akupun kebagian membawa Ember, tali tambang, kain terpal, dan tikar. Terpal? Yah terpal, terpal itu nantinya akan kami gunakan sebagai tenda. Kami memang bukan generasi pramuka cengeng yang tenda pun sudah disiapakan dan langsung jadi. Hehe. No offense.
Sehari sebelum keberangkatan ke Ojolali, tepatnya pada hari kamis siang. Sepulang dari sekolah, aku bersama Wahyu yang notabene adalah sepupuku, menaiki motor dan melaju ke rumah salah seorang teman untuk mencari bamboo yang akan kita gunakan sebagai pancang tenda kami nanti. Kami memacu kendaraan dari rumah sekitar pukul 14.30 WIB dan sampai di rumah salah satu temanku pada pukul 14.45 WIB. Sesampainya di sana, temanku sudah sibuk dengan bamboo dan parangnya. Dia telah membuat pancang untuk tendanya. Aku dan Wahyu pun meminjam parang dan mencari bambu sendiri. Cukup sulit karena harus berhadapan dengan rambu bambu berwarna hitam dan tajam yang didaerah ku sering di sebut dengan “lugut.”
Satu batang bambu telah berhasil kami dapatkan. Kami-pun memerkirakan panjang bambu tesebut yang akan kami gunakann sebagai pancang tenda. Setelah berhasil memerkirakan, kamipun memotongnya. Satu pancang siap digunakan telah kami buat, kamipun mencari bambu lagi. Setelah semua bambu kami dapatkan, kami pun mengubungi teman ami melalu handphone untuk datang. Nata dan Edu pun datang dengan membawa motor nata. Kami-pun langsung menuju sekolah dan memeletakan bambu tersebut di sebelah bangunan kantor guru. Dwiki telah menanti di sana, bersama dengan parang dan batang kayu berukuran 20 sentimeter yang telah runcing ujungnya. Batang kayu ini nantinya akan digunakan sebagai penguat dan tambatan tali yang akan digunakan untuk mendirikan tenda.
Desiran lembut angin sore dan hangatnya sinar matahari keemasan menyapa para siswa dan siswi yang berada disekolah. Satu persatu sisawa dan siswi mulai pulang kerumahnya dan mempersiapakan segala sesuatunya untuk besok. Aku dan Wahyu-pun juga pulang kerumah kami masing-masing setelah tidak ada lagi yang berada di sekolah. Yah setidaknyanya itulah yang kami tahu. Tidak ada lagi yang di sekolah. Kami juga tidak tahu, mungkin di balik jendela kelas sebelas yang terletak di ujung sekolah dan dekat dengan kamar mandi siswa yang tak terpakai ada sesosok yang sedang memerhatikan kami pulang. Mungkin, yah itu mungkin.
………………………………………BERSAMBUNG…………………………………………….

Comments

Popular posts from this blog

Contoh Soal Narrative Text 10 Soal dan Kunci Jawabannya (2)

Contoh Soal Narrative Text 10 Soal dan Kunci Jawabannya (1)

Contoh soal descriptive text 5 soal dan kunci jawabannya